(Thinking out loud) Buku Foto Berdasarkan Foto-Foto Temuan Ataupun Arsip

Menarik sekali belakangan dunia per-buku foto-an, yang lucunya terjadi setelah demam talk show via zoom agak mereda. Setelah hampir satu tahun era pandemi dimulai mungkin akhirnya banyak pelakunya mendapatkan format yang pas bagi mereka. Highlight pertama, tentu saja kanal youtube-nya Alec Soth. 

Yang kedua, kanal youtube-nya Arkademy Project, dimana mereka memiliki dua program yang sudah berjalan “Bincang Buku Foto” dan juga “Bincang Foto”. 

Ini membuat saya tertarik untuk menanggapi mengenai fenomena buku foto yang materi foto-fotonya adalah foto-foto temuan ataupun arsip. Sebelum membaca lebih lanjut mungkin kalian lebih baik menonton video diatas terlebih dahulu. 

Sebenarnya banyak buku foto yang dihasilkan dari foto-foto temuan ataupun arsip, namun benar selama ini kebanyakan dihasilkan oleh artis/ fotografer dari luar Indonesia. Alasannya kenapa? Saya juga tidak mengetahuinya secara pasti, yang jelas buku-buku seperti ini lebih sulit untuk dijual di toko. Jadi selama ini asumsi saya adalah kebanyakan pelanggan kami adalah fotografer jadi mereka akan lebih memilih buku yang foto-fotonya merupakan karya dari fotografernya sendiri. Sementara buku-buku yang dihasilkan dari foto-foto temuan ataupun arsip biasanya dihasilkan oleh seniman yang menggunakan fotografi. Mulai bingung ya? Tetapi memang kenyataannya tidak semua seniman yang menggunakan fotografi memakai foto-fotonya sendiri dalam berkarya. 

Perlu dicatat bahwa Monsanto: A Photographic Investigation agak berbeda dalam kerangka ini karena dia menggunakan arsip dokumen dan foto-foto untuk memperkuat argumennya. Buku lain yang seperti ini yang pernah saya lihat mungkin buku-bukunya Laia Abril seperti On Abortion dan The Epilogue.

Sebagai perbandingan saya akan coba melihat kebelakang melalui beberapa buku-buku yang pernah lewat via toko kami dan bagaimana pendekatan masing-masing buku terhadap foto temuan dan arsip terkait proses bercerita buku-buku tersebut.

1. Evidence oleh Mike Mandel & Larry Sultan

Foto-foto dalam Evidence didapatkan dari arsip-arsip dari institusi-institusi pemerintahan maupun perusahaan. Bayangkan dalam sebuah eksperimen yang gagal, dan orang yang bekerja dalam institusi bersangkutan mengambil foto-foto untuk dokumentasi. Foto-foto inilah yang dikumpulkan oleh Mike Mandel & Larry Sultan dan dijadikan dasar untuk buku ini. Saya tidak akan menulis banyak mengenai buku ini, tapi info mengenai buku ini dapat dibaca via tautan-tautan berikut:

https://www.tate.org.uk/research/publications/in-focus/evidence-sultan-mandel/dustbin-of-history

2.  Elisabeth (I Want to Eat) oleh Marikken Wessel

Marikken Wessel membeli foto-foto (dan surat-surat) untuk buku ini dari pasar loak. Kalau kita melihat keseluruhan buku yang Wessel hasilkan, semuanya memang berasal dari foto-foto karya orang lain. Cerita dalam Elisabeth (I Want to Eat) dibangun dari isi surat-surat yang Wessel temukan tentang patah hati dan mungkin rasa frustasi dalam menghadapi gangguan pola makan. Saya menangkap garis merahnya buku ini adalah isu harga diri (self esteem). 

https://www.marikenwessels.com/control/PagesHandler.php?page_id=10&entry_id=14

 3. Girl Plays with Snake oleh Clare Strand

Apabila Elisabeth dibangun dari sekumpulan foto-foto dan surat yang ditemukan bersama, Girl Plays with Snake adalah hasil dari foto-foto koleksi Clare Strand yang dikumpulkan sejak lama. Strand tertarik pada foto-foto ini karena dia membayangkan bahwa ada laki-laki yang mengarahkan wanita-wanita ini untuk berfoto dengan ular. Yang unik dalam buku ini adalah, dia juga menyisipkan puisi-puisi yang dihasilkan oleh komputer (computer generated) hanya dengan memasukkan beberapa keywords. Puisi ini menjadi semacam komentar absurd dari foto-foto ini.

4. Internal Notebook oleh Miki Hasegawa

Dalam video arkademy disebut-sebut buku hasil workshop Reminder Photography Stronghold. Sebenarnya sulit untuk menjual buku hasil karya RPS, karena pada workshop itu bukunya dihasilkan secara handmade oleh artisnya sendiri, ini membuat edisinya terbatas dan harganya pun relatif mahal terutama untuk pasar Indonesia. Untungnya dulu ada penerbit dari Italia, Ceiba Edition, yang menerbitkan versi trade edition dari beberapa judul. Namun tentu saja membuat trade edition dari buku-buku ini juga sulit dan sebenarnya pun masih semi handmade. Saya belum pernah memegang buku artist edition dari buku-buku ini, namun memegang terbitan Ceiba pun sebenarnya sudah seperti memegang sesuatu yang delicate.

Internal Notebook berawal dari kekhawatiran Miki Hasegawa sebagai orang tua dan penyiksaan terhadap anak. Ini bukan topik yang mudah dan menyenangkan memang. Seperti Monsanto: A Photographic Investigation, buku ini menggunakan arsip dan foto-foto untuk membangun dan memperkuat argumennya.

5. Für Mich oleh Sina Niemeyer

Kalau Internal Notebook bercerita tentang penyiksaan terhadap anak melalui sudut pandang orang tua, Für Mich otobiografikal. Niemeyer menggunakan foto-foto keluarga lamanya untuk menunjukkan memori masa kecil dan sosok pria yang menyakitinya. Buku ini menjadi contoh buku self healing dengan menggunakan fotografi.

Tentu saja sebenarnya masih banyak buku-buku lain yang dihasilkan dari cara kerja seperti ini, beberapa yang terkenal yaitu EJ Bellocq yang ditemukan oleh Lee Friedlander dan Dive Dark Dream Slow oleh Melissa Catanesse. Saya tak berharap banyak sih dengan tulisan ini, mungkin kembali lagi ke video Arkademy yang menyebutkan bahwa buku The Wind is Blowing Your Hair oleh Reza Kutjh adalah buku foto pertama yang menggunakan metode kerja seperti ini. Harapannya mungkin sebatas hanya dapat melihat lebih banyak buku foto Indonesia dengan cara kerja seperti ini.  

Leave a Reply

Your email address will not be published. Required fields are marked *

Select your currency
IDR Indonesian rupiah

Subscribe to the Unobtainium photobook Newsletter

Subscribe to our newsletter to keep up to date with the latest releases and more.

*By completing this form you are signing up to receive out emails and can unsubscribe any time