Review Buku Komik: Mr. Tino

Barangkali kita pernah bertanya-tanya: “Kenapa sih penyamaran para superhero justru malah menarik perhatian?” Apa biar gampang ‘dicirian’ dalam pertempuran? Apa biar dia gampang dijadikan idola (atau merchandise)?

.

Jika memiliki kostum yang mencolok menjadi prasyarat yang harus dipenuhi calon superhero, maka Mr Tino (2020, Epigram Books) bisa dipastikan gagal menyandang predikat superhero. Mr Tino kelihatan seperti lansia pada umumnya, yang apabila belanja di toko akan dipanggil ‘Lolo’ (‘Kakek’ dalam bahasa Tagalog) meski dia belum punya cucu. Tinggal di Manila yang padat, Mr Tino selalu kelihatan berbaur dengan sekelilingnya. Di jalan, yang menyapanya hanya tetangga dan orang-orang yang sering jajan di warungnya. Mr Tino tinggal bersama seorang pembantu, dan istrinya, Aura, yang hidup dengan dementia. Tentu tidak ada yang curiga kalau-kalau Mr Tino punya kekuatan sebagaimana yang dimiliki superhero.

.

Lewat cerita yang ditulis Russell Molina dan garis ekspresif Ian Sta. Maria, pembaca diajak menyusun keping-keping yang menjawab pertanyaan, “Siapa Mr. Tino?” Pembaca akan melalui perjalanannya sehari-hari; menyimak percakapan yang tidak selalu nyambung dengan istrinya; menyaksikan kenangan yang silih berganti dengan mimpi buruknya; menyertainya saat dia sendirian. Gambaran yang kuat tentang masa lalu Mr. Tino dan istrinya juga mengemuka, bukan lewat gambar melainkan surat-surat yang ditulis Aura saat mereka sedang terpisah.

.

Tapi, selalu ada hal yang tidak kita mengerti tentang seseorang, bahkan yang terdekat dengan kita. Mr. Tino tinggal di suatu tempat di mana kriminalitas tumbuh subur. Perampokan, penculikan, hingga pemerkosaan merupakan kesempatan Mr Tino menggunakan kekuatan supernya. Tapi apa tujuannya? Wajah Mr Tino diliputi kegirangan saat menghajar pelaku kriminal, seolah dia menemukan pelampiasan atas rasa frustrasi dan kesepiannya sehari-hari.

.

Jika dalam jagad superhero, kebaikan bisa dibedakan dengan kejahatan, Mr. Tino hidup dalam keseharian yang mirip dengan yang dihidupi manusia biasa. Setiap orang punya posisi dan motifnya masing-masing. Daripada superhero yang membela kebajikan, mungkin Mr Tino lebih cocok disebut super antihero.

Mr. Tino vol. 1 bisa didapatkan pada tautan berikut. Vol. 2 akan hadir dalam beberapa minggu kedepan.

____________________________________________________________

Andika Budiman adalah penikmat komik yang juga senang membuat komik dari kisah hidupnya sendiri. Bisa dihubungi via andika.budiman@gmail.com.

Leave a Reply

Select your currency
IDR Indonesian rupiah

Subscribe to the Unobtainium photobook Newsletter

Subscribe to our newsletter to keep up to date with the latest releases and more.

*By completing this form you are signing up to receive out emails and can unsubscribe any time