Kenneth Graves – The Home Front

Kenneth Graves – The Home Front

(Homer Harianja wrote this review in Bahasa Indonesia and, by his permission, I translated into English.)

 

Awkward story about legs (and photos that will make the world a better place)
Looking at Kenneth Graves photos is like looking at a beautiful woman that has chili being stuck between her teeth. Odd and awkward.
Graves is not commonly known for a lot of street photography enthusiast in Indonesia, probably also in the world. His name is rarely mentioned and talked about. Even the huge Bystander: History of Street Photography doesn’t write anything about him. I only knew everything about him through an essay written by Sandra S. Philips which also serve as the foreword for this book. In the end of the essay, Philips wrote:

So we owe a debt to Kenneth Graves, for his great love of oddities he saw and captured, for his understanding of a culture in turnmoil.”

Before having a career in photography, Graves served in the army for 4 years but finally getting out from it to pursue his impetus for art. He enrolled in San Fransisco Art Institute in 1966, the chaotic year, an era defined by freedom and equal rights protests. Philips wrote that Graves felt that he is an outsider by not being a hippie. Of course, at that time being a hippie is ordinary. Part of the protest movement.

After graduating from the Art Institute, he made a dummy book and leave it in the library. The dummy titled “Montgomery Street” portrays the culture in the financial district. The influence of the book finally reach two young photographers who found it in the library, both are Larry Sultan and Jim Goldberg.

I only found out about Graves last year, 2015, when Mack, the British book publisher, made a book from Graves photos from the ’60 until ’70. The Home Front contain 58 black and white photos.

I am lured by the simple brown and the awkward photo of the cover, it encouraged me to know more about this street photographer. The photo in the cover visualize two businessmen in an opposite position, like two cowboys, but the gestures are awkward because both are them is not facing each other but a little offset. This oddities are clearer when we looked at the gesture of the businessman standing in the left. He looked like on a dance position with both legs ready to jump forward, his body is leaning forward a bit, right hand holding his head, and his left hand in his pocket. While the other man is looking forward, right hand holding a bag to his waist and in a normal gesture.

The combination of both something appropriate and odd gave an effect that I call “what the fuck moment”. These moments made the concept of decisive moment felt dated and you will find this moments repeating in many other photos in this book.

In these gestures there are a hint of emotion and Graves is aware of those. He avoid situations that only will made the photos into mere representation. He treats gestures and explored it to create new realities and these realities, in many times, are both odd and tingle. Exactly like the analogy of the beautiful women and chili incident mentioned before.

I also found there are plenty legs in this book and it made me realised that legs could actually be a funny object. These legs will popped out out of nowhere, from below, making the situation rather ambigious, awkward, and absurd.

Imagine this situation; It’s a clear sunny day, people are sitting on the porch having a conversation. Across the street there’s an ambulance parked. Its back doors are wide open. On the left side of the frame our eyes suddenly caught two pairs of legs pointing upwards of girls. The girls are doing handstand.

Or this one from my favorite photo from the book. Inside a room with a warm light, there are two empty glass on the table, a pot of flower on the window sill, and from the window we could see two pairs of legs side by side. A couple is swimming in the pool but what we saw is just those two legs.
This composition of this photo is very smart indeed. At first, our eyes are being drawn to see a situation then, like any good mystery story, Graves gave it a twist by those sighting behind the window.
Besides legs, Graves also use other gestures such as hand, head, body, and facial expression to give humour in his photos. But what he frequently does is placing a support for the main target to give greater explosive effect to his photographs.
How the book is designed and presented is also interesting to me even on the surface it is simple. The cover does not have any words on it, there is only the photo I previously described. When the inside of the cover is opened, you are presented to a historical chronicle starting from January 14, 1963 until January 30, 1974. From George Wallace inauguration which in his speach appeal for segregation until the historical note when Muhammad Ali beats George Foreman in Zaire. All of these are meant to give context to Graves photographs. Oddly, Graves photos seems to be coming from a different history, we don’t see any protest photos for instance. How could a portrait of an old lady with her dancing gown is a protest photograph. What is so subversive from a dog being caught by the camera glancing to another dog. Politically, Garry Winogrand is better than this.

So what are the issues that is being raised by Graves from those era? What is his response for that situation? What I found is Graves photos are subtle in the surface but deeply meaningful inside. In this book, he captured the behaviour of peoples in those era with a good dose of humour. Using humour, Graves dissected the deepest part of humanity, how people goes through a chaotic world.

Is it possible that Graves believe that humour will make a world a better place?

——————————-

The Home Front: Kisah Ganjil Tentang Kaki dan Foto Yang Akan Membuat Dunia Lebih Baik
Melihat foto-foto karya Kenneth Graves seperti melihat sisa cabai yang nyangkut di sela gigi seorang perempuan cantik. Ganjil dan menggelitik.
Kenneth Graves adalah nama yang asing bagi kebanyakan peminat street photography di Indonesia mungkin juga dunia . Ia jarang disebut dan dibicarakan. Bahkan buku babon seperti Bystander: History of Street Photography tidak menulis satu baitpun tentangnya. Segala sesuatu tentangnya baru saya ketahui kemudian lewat esai yang ditulis oleh Sandra S. Philips yang dijadikan pengantar dalam buku ini. Pada bagian penutup esai dia menulis,
“kita berhutang budi kepada Kenneth Graves atas besar cintanya pada hal yang ganjil, yang dia lihat dan dia rekam, atas pergumulannya pada dunia yang sedang bergejolak. Foto-fotonya membumi dan segar, merekam kemanusian di era yang sulit “
Sebelum berkarir di dunia fotografi, Kenneth Graves pernah menjadi tentara selama 4 tahun namun kemudian keluar dari institusi itu untuk mengikuti dorongan seni dalam dirinya. Ia mendaftar di San Fransisco Art Institute pada tahun 1966, tahun prahara, era yang dipenuhi protes untuk perdamaian dan persamaan hak.Sandra S. Phillips menulis bahwa Kenneth Graves merasa dirinya sebagai outsider karena dia bukan hippie. Di era itu hippie adalah jamak. Bagian dari gerakan protes.
Selepas dari Art Institute, dia membuat buku dummy dan meninggalkannya di perpustakaan. Dummy itu berjudul Montgomery Street yang memotret kultur di distrik finansial. Pengaruh buku ini ternyata sampai kepada dua fotografer muda yang menemukannya di perpustakaan. Mereka adalah Larry Sultan dan Jim Goldberg.
Perjumpaan saya dengan Kenneth Graves baru di tahun 2015 lalu, ketika Mack, penerbit dari Inggris itu, membukukan foto-fotonya yang dibuat dari tahun1960-an sampai dengan 1970-an. The Home Front memuat 58 foto hitam putih.
Adalah sampul buku yang sederhana berwarna coklat dan foto ganjil di atasnya yang memikat saya dan mendorong saya untuk lebih jauh mengenal karya street photographer ini. Foto pada sampul itu memvisualkan dua orang pebisnis yang berada dalam posisi berlawanan dan berjarak, mirip seperti laku duel dua orang koboy namun dalam gestur yang ganjil karena tidak saling berhadapan tapi keduanya menyerong. Keganjilan itu makin tampak pada gestur pebisnis yang berada di posisi kiri. Ia seperti dalam posisi menari dengan kedua kakinya  yang siap melompat ke depan, tubuh sedikit condong ke belakang, tangan kanan di kepala dan tangan kiri di saku celana. Sedangkan pebisnis satunya, menghadap ke muka, tangan kanan mendekap tas di pinggang dan dalam gestur yang sewajarnya. Kombinasi antara yang wajar dan ganjil ini memberikan efek yang saya sebut sebagai what the fuck moment. Momen-momen yang membuat konsep decisive moment berasa usang dan ini akan ditemukan berulang dalam banyak foto lain di The Home Front.
Pada gestur terselip emosi dan Kenneth Graves sadar betul akan itu. Dia menghindari situasi yang hanya akan membuat fotonya menjadi sekadar representasi. Dia mengolah gestur dan mengeksplorasinya untuk menciptakan realitas baru dan realitas itu kerap kali memang ganjil dan menggelitik. Persis seperti ilustrasi sisa cabai yang nyangkut di sela gigi perempuan cantik tadi.
Saya menemukan banyak kaki dalam buku ini dan membuat saya tersadar bahwa kaki bisa jadi obyek yang lucu. Kaki yang tiba-tiba saja muncul, menyembul dari bawah, membuat situasi terlihat ambigu, canggung dan absurd.
Bayangkan suasana seperti ini, pada suatu hari yang cerah, orang-orang duduk di beranda taman dan mereka sedang bercengkerama. Di depan jalan tampak mobil ambulan yang sedang parkir. Pintu belakang terbuka lebar. Di sudut kiri, mata kita tiba-tiba saja menemukan dua pasang kaki gadis yang menjulang ke atas. Mereka sedang handstand. Atau ini yang menjadi foto favorit saya. Dalam sebuah ruangan dengan cahaya yang syahdu, tampak dua gelas kosong di meja, sebuah pot bunga di tepi jendela dan dari jendela itu tampak dua pasang kaki yang berhimpitan. Dua insan sedang berdekapan di dalam kolam renang tapi yang kita lihat hanya sepasang kakinya. Sangat pintar komposisi foto itu. Mata diberikan kesempatan melihat suasana dulu lalu bagai sebuah kisah misteri, Kenneth Graves menutupnya dengan twist lewat penampakan di balik jendela.
Selain kaki, Kenneth Graves juga memberikan efek humor dengan menggunakan gestur lain seperti tangan, kepala, badan dan ekspresi muka. Namun yang paling kerap dilakukannya adalah selalu memberikan pendukung pada sasaran utamanya untuk memberikan efek ledak yang lebih dasyat.
Bagaimana buku ini disusun dan dipresentasikan bagi saya juga cukup menarik walau secara tampilan memang sederhana. Pada sampul depan bersih dari tulisan, hanya terdapat foto yang yang saya deskripsikan tadi. Pada sampul dalam bila dibuka akan terbelah menjadi lembar berganda,  di sana terdapat kronik sejarah mulai 14 Januari 1963 sampai dengan 30 Januari 1974. Mulai dari inagurasi George Wallace yang dalam pidatonya menyerukan segregasi sampai dengan catatan sejarah Muhammad Ali mengalahkan George Foreman di Zaire. Hal ini dimaksudkan untuk memberikan konteks kepada foto-foto Kenneth Graves. Anehnya, foto Kenneth Graves seperti berada di sejarah yang salah, tidak tampak sebagai foto protes, misalnya. Bagaimana mungkin potret seorang nenek dengan baju tarinya disebut foto protes. Apa yang subversif dari foto anjing yang tertangkap kamera sedang melirik anjing lainnya. Bicara soal politik, Garry Winogrand lebih baik dari ini. Lalu apa yang hendak disampaikan Kenneth Graves akan era itu? Apa responnya terhadap situasi itu? Saya melihat foto-fotonya halus dipermukaan, tapi sangat dalam ke bawah. Ia berhasil merekam perilaku manusia di era itu yang dalam buku ini dikisahkan dengan gaya humor. Lewat humor itu ia membedah bagian terdalam dari kemanusiaan; bagaimana manusia bertahan dalam dunia yang penuh prahara.
Mungkinkah Kenneth Graves percaya bahwa humor dapat membuat dunia menjadi lebih baik?
_________________________________________________________________________

Homer Harianja is a photobooks, film cameras, and street photography enthusiast. He never won any award whatsoever. He currently lived in Sleman, Indonesia.

(Note: Too humble, probably not an award per se but his book “As I Was Moving Ahead“, is chosen as one of the best photobook in 2015 by the Photobook Club Jakarta)

This Post Has One Comment

Leave a Reply