Astres Noirs – Katrin Koenning & Sarker Protick

Astres Noirs – Katrin Koenning & Sarker Protick

 

“Astres Noirs” adalah buku foto pertama dari kedua fotografer Katrin Koenning dan Sarker Protick. Terjemahan dari judul buku foto ini adalah “Black Star”, “Bintang Hitam”. Terjemahan judul buku foto ini mengingatkan pada lagu dari David Bowie dan Elvis Presley yang berjudul “Black Star”. Dalam konteks ilmu pengetahuan, “Black Star” adalah sebuah istilah untuk sebuah keadaan diantara collapsed star dan singularity. Singularity dalam buku Stephen Hawking, “Theory of Everything” adalah keadaan, peristiwa, event yang bisa jadi memicu awal mula dari perjalanan ketidak-terbatasan (infinity) alam semesta kita ini. Lalu apa hubungan antara konteks “Black Star” pada ilmu pengetahuan dengan “Black Star” (“Astres Noirs”)?. Saya membaca buku ini dengan landasan naratif diatas karena pengarang tidak meberi clue lebih dalam narasi buku ini. Setiap pembaca diberi kebebasan untuk berimajinasi dalam perjalanan membaca buku foto ini.

 

Kesan pertama membaca “Astres Noirs” adalah perasaan bingung, tertelan mentah-mentah dalam tarikan kegelapan yang disebabkan oleh wujud cetak buku foto ini. Foto-foto di “Astres Noirs” dicetak dengan tinta berwarna perak di atas kertas gelap. Perlakuan cetak foto dalam buku foto ini memberi kesan pada pembaca untuk memberi perhatian secara lebih dan penuh konsentrasi pada pantulan keperak-perakan cetakannya. Saya pribadi kurang suka dengan produksi cetak “perak diatas gelap” (saya tidak tahu istilah teknisnya apa) buku ini. Menurut saya hal ini mengurangi kenikmatan pembaca dalam membaca buku secara ritmis dan mengalir. Tapi secara kontekstual produksi cetak “perak diatas gelap” ini mampu menguatkan nuansa kontemplatif dari tarikan gravitasi “Black Star” yang menelan dan memenjarakan semua entitas disekitarnya.

Karya foto dalam buku foto ini lahir dari hasil kolaborasi antara dua fotografer, Katrin Koenning dan Sarker Protick. Karya foto yang lahir oleh kedua fotografer itu secara konstruktif membangun suatu keutuhan narasi fiksi dalam buku foto ini. Foto-foto yang tampil mengalir secara subtil berbisik pada pembaca. Bisikan-bisikan itu mengajak pembaca untuk tersesat dalam megahnya cahaya. Secara  teknik dan estetik, buku ini membawa kebaruan dengan memanfaatkan hal yang sering dinilai sebagai kesalahan dalam teknis fotografi yaitu kondisi pencahayaan “over” atau “wash out”. Hal ini mampu memicu kekaguman dan ketakjuban pembaca pada keadaan dimana cahaya berkuasa mutlak dan menelan mentah-mentah realitas yang ada. Figur objek manusia yang putih terang tanpa detail kemanusiaannya dan beberapa objek yang juga putih terang dalam lansekap alam menciptakan keajaiban dalam buku ini. Estetika cahaya dalam buku ini menasbihkan kemegahan cahaya dimana cahaya mampu membawa pembaca menuju ke sebuah dunia baru. Dunia yang menemukan eksistensinya dalam narasi fiksi dan melepas batasan-batasan realitas yang ada.

 

 

Pada proses pembacaanya, “Astres Noirs” membawa banyak variabel imajinatif bagi pembacanya. Bagi saya sendiri “Astres Noirs” adalah sebuah buku yang menawarkan narasi fiksi tentang perjalanan fantasi menuju ketidak-terbatasan alam semesta cahaya. Kepingan-kepingan, kilatan-kilatan perak yang muncul memanggil kembali imajinasi tentang perjalanan luar angkasa, eksistensi dunia secara universal dan kehidupan manusia sebagai salah satu penghuni alam semesta. “Astres Noirs” bisa juga dibayangkan sebagai sebuah parallel universe di seberang singularity, terbentang dalam kegelapan “Black Star” dimana eksistensi realitas kehidupan lain berada. Kehidupan yang tidak terbatas pada batas-batas kefanaan, sebuah keabadian.

Perlu digaris-bawahi bahwa proses berkarya fotografi di buku foto ini diciptakan dengan media mobile phone camera. Kamera yang setiap saat secara portabel berada dalam genggaman kita. Penguasaan teknis dari kedua fotografer dan eksplorasi dalam berkarya fotografi melahirkan imaji-imaji yang membawa pembaca dalam perjalanan fantastis “Astres Noirs”. Mobile phone camera dan segala keterbatasannya saat ini tidak menjadi soal lagi. Fotografi semestinya tidak hanya dipahami dalam batasan “tool” atau alat saja, melainkan fotografi adalah tentang bagaimana kita mampu menciptakan keajaiban dengan cara pandang personal kita terhadap kehidupan. Pada akhirnya buku foto ini layak untuk dikoleksi namun tidak memerlukan urgensi. Saya pribadi malah lebih menikmati tampilan foto-foto dalam buku foto ini di kedua akun instagram fotografernya. Entah kenapa lebih ajaib rasanya melihat perjalanan celestial ini melalui banalnya media sosial.

——

Aji Susanto Anom (b.1989) is a photographer based in Solo, Indonesia. He is now still studying in Indonesian Art Institutes of Yogyakarta (ISI Yogyakarta). His work is basically explores all his personal question about the darkness of his deeper life. He has published three photobooks independently called “Nothing Personal”, “Poison” and “Recollecting Dreams”. In 2015, he was selected as one of the participant of “Angkor Photography Workshop” under the mentor: Antoine D’Agata and Sohrab Hura. His works can be discovered through his featured publication on BURN Magazine, Lens Culture, The Invisible Photographer Asia, Top Photography Films, Monovisions, Dodho Magazines, Sidewalkers.Asia and more.

PS: Sorry I tried to do the translation but having an active toddler means that I don’t really have the time and mind to do it properly. Let me post this one in bahasa Indonesia and update it later when I’m satisfied with my translation.

Leave a Reply